Jenis jualan makanan yang laris di kampung

jenis jualan makanan paling laris di kampung

Apakah Anda saat ini tertarik untuk menjual makanan di kampung? Tentu beragam pertanyaan akan muncul, misalnya apakah akan banyak pembelinya seperti di kota-kota, atau jenis makanan apa yang diminati masyarakat di sana. Di tengah berbagai pertanyaan yang muncul, jualan makanan di kampung tetap menjadi usaha yang menjanjikan. Sebab, makanan adalah kebutuhan primer yang tak bisa lepas dari manusia. 

Berjualan makanan di kampung juga memiliki nilai plus yang bisa menghemat biaya modal awal Anda. Pertama, jualan makanan di kampung itu berarti dekat dengan bahan baku sehingga bisa memasang harga lebih terjangkau. Selanjutnya, biaya sewa untuk kedai makanan di sana lebih rendah daripada di kota-kota besar. 

Lalu yang menjadi pertanyaan, jenis makanan apa yang saat ini laris di kampung-kampung? Berikut kami rangkum ide jualan makanan yang berpotensi laris manis di kampung untuk Anda.

  1. Aneka Pecel

Nasi Pecel/Source: Freepik

Pecel adalah makanan favorit untuk sarapan kebanyakan warga kampung. Pecel di kampung ini berbeda dengan yang di kota-kota besar. Pecel di sana adalah nasi dan aneka sayuran dengan tambahan tempe atau tahu goreng yang dibubuhi sambal kacang serta dilengkapi dengan peyek. Beberapa pecel disajikan di atas daun pisang untuk menambah aroma sedap nasinya. 

Seporsi pecel di kampung biasanya dijual mulai Rp 5.000 hingga Rp 10.000. Harganya yang murah ditambah dengan kandungan yang menyehatkan, membuat pecel selalu menjadi pilihan terbaik. 

Jika Anda mulai tertarik membuka usaha pecel, berikut estimasi modal dan keuntungannya, dengan catatan dibuka di rumah sendiri. 

Modal

  1. Sayuran (tauge, bayam, kacang panjang, kemangi, kuncup bunga turi, mentimun) : Rp 60.000
  2. Beras : Rp 30.000
  3. Tempe & tahu : Rp 20.000
  4. Bahan peyek : Rp 15.000

Total : Rp 125.000

Jika dengan bahan baku tersebut bisa membuat 50 porsi pecel dan dijual dengan harga Rp 5.000 per porsinya, maka keuntungan yang akan didapatkan, yakni:

Keuntungan: 50 x Rp 5.000= 250.000

Dengan jumlah tersebut, keuntungan bersih yang didapatkan per harinya, yaitu: Rp 125.000.  

  1. Seblak

Seblak/Source: Wikimedia

Seblak pada mulanya memang makanan khas Jawa Barat, berasal dari bahasa Sunda, “segak” yang artinya menyengat. Namun, seblak lambat laun mulai dikenal luas dan ditemukan di banyak kampung di luar Jawa Barat. Bagi pecinta pedas, seblak adalah makanan favorit. Seblak sendiri terbuat dari campuran bumbu cikur (kencur) dengan banyak isian, seperti kerupuk kuning kenyal, aci, mi, bakso, makaroni, cabai, hingga ceker ayam. 

Seporsi seblak di kampung umumnya dijual mulai Rp 5.000 hingga Rp 10.000. Jika Anda mulai tertarik membuka usaha makanan seblak di kampung, berikut estimasi modal dan keuntungannya, dengan catatan dibuka di tempat sendiri. 

Modal

  1. Bahan bumbu : Rp 15.000
  2. Kerupuk : Rp 30.000
  3. Aci : Rp 9.000
  4. Mi : Rp 12.000
  5. Bakso : Rp 20.000
  6. Makaroni : Rp 14.000
  7. Cabai : Rp 10.000
  8. Ceker ayam : Rp 10.000

Total : Rp 120.000

Apabila dengan bahan baku tersebut bisa membuat 50 porsi pecel dan dijual dengan harga Rp 5.000 per porsinya, maka keuntungan yang akan didapatkan, adalah:

Keuntungan: 50 x Rp 5.000= 250.000

Dengan jumlah tersebut, keuntungan bersih yang didapatkan per harinya, yaitu: Rp 130.000.  

  1. Cilok

Cilok/Source: Wikimedia

Cilok menjadi jajanan favorit yang banyak ditemukan di sekolah-sekolah di kampung. Para siswa senang jajan cilok untuk pengganjal perut saat jam istirahat sekolah. Cilok yang dijual umumnya terdiri dari berbagai macam varian, seperti isi daging, telur puyuh, campuran dengan tahu dan lain sebagainya. Penjual cilok biasanya juga tidak memasang harga minimal untuk satu porsi yang mereka jual. Mereka akan menyesuaikan jumlah cilok dengan uang yang diberikan pembeli. 

Selanjutnya, jika Anda mulai tertarik berjualan cilok di kampung, dengan catatan di tempat sendiri, berikut modal dan keuntungannya.

Modal

  1. Tepung sagu dan terigu : Rp 15.000
  2. Garam dan merica : Rp 6.000
  3. Bawang putih dan penyedap : Rp 7.000
  4. Telur puyuh : Rp 15.000
  5. Tahu : Rp 5.000
  6. Ati ayam : Rp 5.000

Total : Rp 53.000

Apabila dengan bahan baku tersebut bisa membuat 50 bungkus cilok dan dijual dengan harga Rp 3.000 per porsinya, maka keuntungan yang akan didapatkan, adalah:

Keuntungan: 50 x Rp 3.000= 150.000

Dengan jumlah tersebut, keuntungan bersih yang didapatkan per harinya, yaitu: Rp 97.000.  

  1. Sempol

Sempol/Source: Cookpad

Sempol awalnya merupakan jajanan yang terkenal di daerah Malang dan sekitarnya. Akan tetapi, lambat laun jajanan ini mulai ditemukan di kota-kota besar, seperti Jabodetabek. Sempol terbuat dari adonan tepung tapioka yang dicampur dengan daging ayam serta aneka bumbu. Adonan sempol lalu ditusuk seperti sate dan dilumuri telur untuk selanjutnya digoreng. Satu tusuk sempol biasanya dijual mulai Rp 500 hingga Rp 1.000. 

Jika Anda mulai tertarik membuka usaha jajanan cilok di kampung, berikut estimasi modal dan keuntungannya, dengan catatan dibuka di tempat sendiri. 

Modal

  1. Ayam : Rp 15.000
  2. Tepung tapioka : Rp 9.000
  3. Telur : Rp 5.000
  4. Aneka bumbu & saus : Rp 10.000
  5. Tusuk : Rp 5.000
  6. Minyak goreng : Rp 20.000

Total : Rp 64.000

Apabila dengan bahan baku tersebut bisa membuat 150 tusuk sempol dan dijual dengan harga Rp 1.000 per tusuknya, maka keuntungan yang akan didapatkan, yaitu: 

Keuntungan: 150 x Rp 1.000= 150.000

Dengan jumlah tersebut, keuntungan bersih yang didapatkan per harinya, yaitu: Rp 86.000.  

  1. Kerang Kekinian

Kerang saus padang/Source: Freepik

Jika Anda berada di daerah dekat dengan lokasi budidaya kerang, maka menjual aneka kerang kekinian tidak ada salahnya. Sebab Anda akan memperoleh bahan baku dengan harga murah. Kerang sendiri adalah makanan yang enak untuk disantap di kala-kala senggang atau luang. Kerang juga disajikan dengan beragam bumbu pilihan, seperti saus padang, asam manis, tiram, dan lain sebagainya. 

Untuk membuka usaha makanan kerang di kampung, berikut estimasi modal dan keuntungannya, dengan catatan dibuka di tempat sendiri. 

Modal

  1. Kerang : Rp 80.000
  2. Aneka bumbu : Rp 30.000

Total : Rp 110.000

Apabila dengan bahan baku tersebut bisa membuat 25 porsi kerang dan dijual dengan harga Rp 10.000 per tusuknya, maka keuntungan yang akan didapatkan, yaitu: 

Keuntungan: 25 x Rp 10.000= 250.000

Dengan jumlah tersebut, keuntungan bersih yang didapatkan per harinya, yaitu: Rp 140.000.  

  1. Mi Ayam dan Bakso

Mi ayam bakso/Source: Nesia Qurrota

Mi ayam dan bakso adalah makanan yang sudah pasti ada di kampung-kampung. Tidak hanya satu atau dua penjual, biasanya penjaja keduanya bisa lebih dari itu. Oleh karena itu, jika Anda ingin membuka usaha mi ayam dan bakso di kampung, Anda perlu berinovasi, bisa dalam hal cita rasa, pelayanan, hingga ragam promo yang diberikan. 

Untuk membuka usaha mi ayam dan bakso di kampung, berikut estimasi modal dan keuntungannya, dengan catatan dibuka di tempat sendiri. 

Modal

  1. Daging sapi : Rp 40.000
  2. Tepung tapioka : Rp 18.000
  1. Aneka bumbu : Rp 15.000
  2. Tepung terigu : Rp 18.000
  3. Ayam dan ceker : Rp 25.000
  4. Saus dan kecap : Rp 15.000
  5. Telur : Rp 5.000
  6. Minyak mi ayam : Rp 10.000
  7. Sayur : Rp 10.000

Total : Rp 156.000

Apabila dengan bahan baku tersebut bisa membuat 50 mangkuk mi ayam dan bakso serta dijual dengan harga Rp 7.000, maka keuntungan yang akan didapatkan, yaitu: 

Keuntungan: 50 x Rp 7.000= 350.000

Dengan jumlah tersebut, keuntungan bersih yang didapatkan per harinya, yaitu: Rp 194.000.  

  1. Rujak

Rujak/Source: Wikimedia

Rujak di kampung pada dasarnya berbeda dengan yang sering ditemui di kota-kota besar. Rujak di kampung berupa irisan lontong yang dicampur dengan tahu tempe dan sayuran seperti kacang panjang dan kangkung. Rujak dibubuhi bumbu seperti kacang, gula merah, dan cabai yang diulek secara langsung. Bumbu tersebut umumnya ditambahi dengan petis yang kemudian membuat aroma rujak lebih sedap. Rujak kemudian disajikan dengan tambahan kerupuk yang telah dihancurkan. 

Untuk membuka warung rujak di kampung, berikut estimasi modal dan keuntungannya, dengan catatan dibuka di tempat sendiri. 

Modal

  1. Kacang panjang dan kangkung : Rp 15.000
  2. Tahu dan tempe : Rp 20.000
  1. Aneka bumbu : Rp 25.000
  2. Beras : Rp 25.000
  3. Kerupuk : Rp 10.000

Total : Rp 95.000

Jika dengan bahan baku tersebut bisa membuat 50 bungkus rujak serta dijual dengan harga Rp 6.000 per porsinya, maka keuntungan yang akan didapatkan, yaitu: 

Keuntungan: 50 x Rp 6.000= 300.000

Dengan demikian, keuntungan bersih yang didapatkan dengan berjualan rujak per harinya, yaitu: Rp 205.000.  

  1. Soto

Soto ayam/Source: Nesia Qurrota

Soto merupakan sup khas Indonesia yang terdiri dari kaldu, daging, dan sayuran. Soto di setiap daerah pun berbeda-beda, ada yang bening, bersantan, dicampur dengan mi atau bihun, dan lain sebagainya. Soto selalu diminati masyarakat, terutama saat musim penghujan, saat suhu harian terasa dingin. Harga semangkuk soto pada dasarnya berbeda-beda, tergantung dari ukuran dan isian porsi. Biasanya ada seporsi soto yang dijual mulai Rp 5.000 hingga Rp 10.000. 

Kemudian, jika Anda berniat menjual soto ayam bening, dengan catatan di tempat sendiri, berikut modal dan keuntungannya. 

Modal

  1. Ayam kampung : Rp 35.000
  2. Beras : Rp 30.000
  3. Aneka bumbu : Rp 30.000
  4. Tauge : Rp 7.000
  5. Kerupuk : Rp 10.000

Total : Rp 112.000

Apabila dengan bahan baku tersebut bisa membuat 50 mangkuk soto dan dijual dengan harga Rp 5.000  per porsinya, maka keuntungan yang akan didapatkan, adalah:

Keuntungan: 50 x Rp 5.000= 250.000

Dengan jumlah tersebut, keuntungan bersih yang didapatkan per harinya, yaitu: Rp 138.000.  

  1. Nasi Goreng

Nasi Goreng/Source: Wikipedia

Di kampung-kampung, nasi goreng adalah menu yang sudah pasti banyak dijumpai jelang petang hingga dini hari. Penjual nasi goreng di kampung biasanya sepaket menyajikan menu lainnya, yakni nasi mawut, mi goreng, dan lain sebagainya. Nasi goreng menjadi favorit masyarakat karena praktis, murah, dan  dapat meningkatkan nafsu makan. Seporsi nasi goreng ayam di kampung biasanya dijual mulai Rp 10.000. 

Apabila Anda mulai tertarik menjual nasi goreng, maka penting untuk membuat cita rasa yang lebih daripada pesaing lainnya. Sebab jika tidak, usaha nasi goreng Anda tidak akan laris. 

Untuk membuka usaha nasi goreng di kampung, berikut estimasi modal dan keuntungannya, dengan catatan dibuka di tempat sendiri. 

Modal

  1. Nasi : Rp 30.000
  2. Ayam : Rp 25.000
  3. Aneka bumbu : Rp 20.000
  4. Telur : Rp 10.000
  5. Sayur : Rp 10.000
  6. Kerupuk : Rp 10.000

Total : Rp 105.000

Jika dengan bahan baku tersebut bisa membuat 35 bungkus nasi goreng serta dijual dengan harga Rp 10.000 per porsinya, maka keuntungan yang akan didapatkan, yaitu: 

Keuntungan: 35 x Rp 10.000= 350.000

Selanjutnya keuntungan bersih yang didapatkan dengan menjual nasi goreng per harinya, yaitu: Rp 245.000.  

  1. Makaroni Telor (Maklor)

Maklor/Source: Cookpad

Maklor adalah jajanan yang saat ini mudah ditemukan di sekolah-sekolah di kampung. Anak sekolah umumnya menyukai maklor karena biasa disajikan dengan bumbu yang beraneka ragam, seperti barbeque, balado, keju, dan lain sebagainya. Usaha maklor terbilang cukup praktis dan menjanjikan karena tidak membutuhkan modal cukup besar. Seporsi maklor biasanya dijual mulai Rp 3.000 hingga Rp 5.000. 

Kemudian, untuk perhitungan modal dan keuntungannya adalah sebagai berikut:

Modal

  1. Makaroni : Rp 30.000
  2. Telur : Rp 10.000
  3. Aneka bumbu : Rp 15.000

Total : Rp 55.000

Jika dengan bahan baku tersebut bisa membuat 60 bungkus maklor serta dijual dengan harga Rp 3.000 per porsinya, maka keuntungan yang akan didapatkan, yaitu: 

Keuntungan: 60 x Rp 3.000= 180.000

Selanjutnya keuntungan bersih yang didapatkan dengan menjual maklor per harinya, yaitu Rp 125.000.  

Untuk membuka usaha makanan di kampung, pada dasarnya kejelian Anda melihat peluang yang ada sangat diperlukan. Anda bisa memulai dengan usaha makanan yang belum banyak berkembang di daerah tersebut atau juga yang menawarkan promosi menarik sehingga banyak mengundang pembeli. Selain itu, bagaimana kualitas pelayanan Anda juga sangat menentukan laris tidaknya usaha makanan Anda di kampung. Sebab jika Anda memberikan pelayanan yang sangat baik, maka hal itu akan dengan cepat menyebar di kampung. Oleh karena itu, peluang kelarisan usaha makanan Anda akan makin besar.